Indonesia Domestic Flight During Pandemic COVID-19

Hi.. how are you? If you happen to come to this page I assume you miss flying, don’t you? I do too. I had couple of flights during pandemic and would like to note it over here with a wish we could fly as we used to pretty soon. Have a nice day and nice flight for you!

Flight Booking and Airline Physical Distancing

I have learned my lesson and I haven’t fully gained back my trust to travel agency ( both online and offline ). Direct booking still become my preference. Reason being ,with a direct booking in case you need to change your plan it will be easier. I had the experience where the airline has published the announcement giving the passenger a leeway but the implementation with service partner is another complexity. It took months to managed one of my old booking therefore when I become very careful for any upcoming trips since the whole process of changing your itinerary was quite frustrating for everyone involved. Another notes, I will suggest to go with Flagship airline of the country.

In 2020 many airlines conduct physical distancing in the airplane but as of now in Q2 2021 many don’t do it anymore so choose yours wisely. The one which still has physical distancing comes with a higher price. It might not stated very clearly for you but the distancing somehow being sold as an add on either you need to choose a higher ticket class or essentially you could purchase a seating zone in booking page just before you go to the payment.

Before Flying Preparation

Good, now you already have your booking you will need another preparation. It may change from time to time so you need to check during your flight time. For Indonesia Domestic flight it usually either PCR Negative result max 3 or 2 x 24 hours from your flight or Rapid Test Antigen Result max 2 or 1 x24 hours from your flight. It may vary depending on your destination. There is also a facility provided at the airport if you need one. Rapid test antigen is quite quick, based on my experience I could always get the result less than 20 minutes. Starting from Q1 2021 there are some health facilities which already connected to eHac ( Health application provided for travellers in Indonesia ) – more about it later.

At the Airport

Aaaahh… now the happy part. I literally smiling ear to ear the first time I put my feet at the Airport. Excited! I went to Soekarno Hatta International Airport in Jakarta Terminal 3 Ultimate. After you get there I suggest you to go to Gate 3 because you will need to validate your rapid test / pcr test result for boarding and the place is just right after you get in through Gate 3. The validation process is very quick and there are a lot of stations so this one could be finished within 5 minute or so. Once you have the validation get into the Check in / Baggage drop area. Well, you could still drop your baggage without the validation but you can’t go to the boarding room so just make sure you provide enough time for this.

When you are all set with all the validation and your luggage is packed you could proceed to the boarding room. When you are at the gate, the officer will ask for your boarding information including the COVID-19 test result validation before you could proceed further into the queue. when they are checking the info they will ask you to open your mask once to ensure that you are the same person as your identity information. If everything’s good then you could go into your boarding room.

Of course there are some measures in place such as temperature checking and the distancing. However, I found that we tend to forget it when we are in queue. My suggestion and this is what I did which seems to work. I didn’t wear N95 mask, i tried but I got dizzy so I opted for another one which by wearing KN95 mask doubled with Surgical Mask. I didn’t open it at all during the flight. So yes, hello fasting. LOL.

During the waiting time in the boarding room, It’s a good time to fill in your eHAC. eHAC is an Indonesia Electronic Health Alert Card. It’s being used by the government to do the tracing and also to give the latest information for travelling purpose. You could get your eHAC by installing the application on your phone. Once you have it installed you need to register yourself then you could go under your Account menu and to the HAC section. Over there you will need to create your HAC either you just arrived from abroad or you want to travel intercity within Indonesia. You will need to put your flight number and your seat number. HAC information won’t be necessary for you to board the airplane in your departure airport but this info will be scanned in your arrival airport. Based on my experience it’s better to fill the HAC before you land so yes boarding time is a good window time.

Without further ado, when you have been called for boarding make sure you grab everything ready mask on and try not to touch anything and distance yourself from others. We tend to forget all this in a queue. When i got into the airplane, well i think it depends on which flight that you choose, some put a stricter measure than the others. Still, I wiped everything down and sanitized my stuff and my hand. I observed that every passenger has their own ritual so relax no one will judge you, well unless you wear hazmat suit perhaps. Throughout the flight, I recommend this Do not rub your eyes or open your mask if it’s not necessary. Well, for me not opening my mask for drinking was not that hard. I think Ramadhan fasting has trained me therefore I could enjoy the flight. How could I not? My excitement level shot up the roof seeing the white cloud and blue water beneath. Enjoy the flight until your landing time.

Once you landed, the changes are about the same as the one in Soekarno Hatta Airport. The main difference is the eHAC checking part. So you need to show your HAC, there is a QR code generated for your visit and the officer will scan it through. Since you get it all ready before you depart it’s all good the process will be quick. After the scanning you could get into conveyor belt and there you are off you go to wherever your destination is.

Wish you could travel safely wherever you are.

Cheers!

Triana Mustika Rukmi

Perpustakaan Nasional Indonesia Di Masa Pandemi COVID 19

Masih dalam edisi karantina wilayah dan pembatasan pergerakan ini mulai mencari tempat baru untuk dikunjungi dan akhirnya memutuskan pergi ke Perpustakaan Nasional. Tentunya karena masih masa pandemi jadi perlu melihat detailnya seperti apa untuk pergi ke perpusnas ( perpustakaan nasional ) seperti jam kunjungan dan tata cara kunjungan.

Registrasi Kunjungan Online

Sebelum datang ke perpusnas untuk saat ini pastikan untuk melakukan registrasi kunjungan karena ada jumlah maksimal batas pengunjung tiap hari. Pendaftaran bisa dilakukan melalui tautan berikut untuk kunjungan perpusnas. Jangan lupa siapkan kartu tanda pengenal (seperti KTP ya ) karena akan diperlukan untuk registrasi. Pendaftaran dibuka setiap hari jam 5.00 WIB ( GMT+7) siap – siap deh ini daftar pagi-pagi dari pengalaman saat aku coba daftar di sekitar jam 8 pagi kuota sudah habis. 😦 akhirnya dapet kuota lagi setelah coba daftar di hari lain di sekitar jam 6.00 WIB. Setelah selesai registrasi saran aku langsung download dan buat backup screen capturenya karena nanti akan ada QR code yang discan di beberapa tempat saat kunjungan.

Registrasi Sebagai Anggota Perpustakaan

Ok, tadi di bagian pertama adalah registrasi supaya bisa berkunjung masuk ke perpusnas kalau sekarang ini adalah bagian untuk mendaftar jadi anggota perpustakaan. Highly recommended! silakan daftar online di tautan ini. Beberapa manfaat keanggotaan adalah untuk peminjaman buku dan untuk akses masuk ke beberapa bagian di dalam perpusnas. Catatan jangan lupa untuk isi alamat email ya (meskipun data tersebut tidak wajib diisi ) saat pendaftaran keanggotan karena ini akan digunakan untuk reset password kalau nanti lupa. belajar dari pengalaman saya soalnya baru selesai daftar terus nggak bisa masuk karena tidak memasukkan email jadi mau tidak mau harus datang ke lokasi.

Kunjungan di Perpustakaan Nasional

Setelah selesai registrasi untuk kunjungan kita bisa datang bebas kapanpun sesuai dengan jam buka perpustakaan. Di lobi nanti akan ada jalur antrian dan untuk scan QR code yang diberikan saat registrasi. Melewati pintu depan kita akan dibawa masuk ke semacam anjungan dengan beberapa penjelasan dan pameran terkait dengan aksara, media penulisan, dan membaca. Cukup menarik tapi bagian ini bisa langsung dilewati jika tidak memiliki cukup banyak waktu. Keluar dari bagian pertama ini barulah nanti akan bertemu dengan gedung baru perpustakaan nasional.

Di bagian pintu masuk gedung utama ada area tempat duduk yang bisa digunakan. Area ini di luar ruangan mungkin bisa dijadikan pilihan untuk yang lebih nyaman berada di luar ruangan terutama di masa pandemi. Di sebelah kiri pintu masuk ada bagian khusus untuk mengembalikan buku. Masuk melalui pintu utama kita akan langsung disambut dengan arsitektur yang cukup menarik dengan rak pajangan buku yanng menjulang bertingkat – tingkat ke atas. Di sini lah perjalanan di mulai.

Penitipan Barang / Ruang Loker

Jadi jika ingin berkunjung dan memasuki area perpustakaan untuk membaca buku barang bawaan kita perlu dititipkan di lantai dasar. Dari pintu masuk gedung utama nanti bisa ke bagian informasi di sebelah kanan. Pengunjung bisa mendapatkan kunci loker dan ada tas tembus pandang yang dipinjamkan untuk menaruh barang bawaan. Tidak ada biaya untuk peminjaman loker dan tas.

Mencetak kartu perpustakaan

Setelah saya memasukkan barang bawaan ke loker saya langsung menuju ke lantai 2 yaitu untuk bantuan akun keanggotaan perpusnas dan untuk mencetak kartu keanggotan. Layanan ini terbatas ya saat saya datang kalau tidak salah hanya 300 orang maksimal per hari jadi kalau ada perlu sebaiknya datang di pagi hari. Pada saat datang ambil nomor antrian dengan memasukkan informasi keanggotaan online bisa dengan menggunakan nama lengkap, NIK, ataupun nomor anggota. Begitu mendapatkan nomor antrian tinggal tunggu giliran sampai dipanggil. Prosesnya cukup cepat untuk saya hanya beberapa menit untuk bantuan reset password dan pencetakan kartu nanti akan difoto langsung di tempat dan kartu fisik pun akan langsung jadi.

Tempat Umum, Ruang Multimedia, dan Koleksi Buku

Selesai mendapatkan kartu saya langsung menuju ke lantai 22 untuk melihat koleksi buku yang dimiliki di perpusnas. Koleksi buku terbuka ada di dua lantai, yaitu lantai 21 – 22 namun lokasi masuk adalah di lantai 22 dan lokasi keluar ada di lantai 21. Di lantai 22 nanti QR code yang didapatkan saat mendaftar kunjungan akan kembali discan. Secara koleksi sebenarnya cukup banyak namun mungkin memang bukan untuk tujuan rekreasi karena kalau saya lihat lebih banyak untuk buku referensi. Ada komputer yang disediakan dan dapat digunakan untuk melakukan pencarian buku. Di lantai 21 dan 22 juga disediakan meja dan kursi yang bisa digunakan. Di lantai ini juga saya menyadari satu hal ada box hitam yang berjalan di bagian langit-langit. Oh wow.. ini adalah kotak yang sama yang saya lihat di lantai dasar sebelum pintu masuk untuk pengembalian buku. Saya tidak bertanya untuk memastikan, tapi sepertinya box ini berfungsi untuk melakukan pengantaran buku. it’s quite cool. Saat sudah selesai bisa keluar melalui lantai 21, jangan lupa scan lagi QR code untuk keluar.

Tidak menemukan buku yang saya cari, saya pikir lebih baik menggunakan waktu ini untuk melakukan hal lain. Akhirnya saya pergi ke lantai 19 bagian multimedia. Lantai 19 hanya bisa diakses oleh anggota perpusnas, jangan lupa daftar online dan cetak kartu ya di lantai 2. Saat memasuki lantai 19 kartu keanggotaan akan discan. Setelah itu kita bisa memilih apakah ingin menggunakan komputer yang disediakan oleh Perpusnas atau tidak. Saat kunjungan saya membawa komputer pribadi sehingga memilih untuk menggunakan area kerja dengan meja dan kursi saja. Sebagai catatan, di Perpusnas tersedia layanan wifi gratis dan bisa diakses oleh seluruh pengunjung. Bisa ke bagian informasi ya untuk mendapatkan infonya. Di lantai 19 juga tersedia stop kontak di beberapa titik jika perlu melakukan pengisian daya perangkat elektronik yang digunakan.

Saya menggunakan ruangan di lantai 19 sampai sekitar pukul 1 siang. Berharap kantin sudah lebih sepi saya pergi ke Lantai 4, namun harapan tinggal harapan. Lantai 4 masih ramai. Saya masih merasa tidak nyaman untuk melepaskan masker saat ada banyak orang akhirnya saya memilih untuk kembali ke lantai dasar di bagian pojok ada kafe yang saya sempat lihat saat datang pagi hari.

Kali ini untuk turun ke lantai dasar saya memilih untuk menggunakan eksalator dibandingkan elevator. Sepanjang jalan turun setiap lantai memiliki peruntukan yang berbeda-beda. Rasanya agak asing mungkin karena memang saya bukan targetnya. Anyway, akhirnya sampai di lantai 1. Saya memilih untuk mengambil barang di loker terlebih dahulu baru ke kafe. Pilihan memang tidak terlalu banyak tapi setidaknya tidak ramai dan bisa pilih untuk pesan makan di luar ruangan.

Setelah semua selesai dan akan pulang, saya menempuh jalur yang sama dengan jalur masuk, keluar dari gedung baru dan memasuki gedung lama tempat pameran, baru benar – benar keluar ke lobi depan. Pada saat keluar jangan lupa untuk melakukan scan ulang QR code pengunjung dan selesai sudah kunjungan kali ini. 🙂

Sedikit catatan, pada saat saya ke sana pagi hari sekitar jam 8.30 WIB diputarkan lagu Indonesia Raya. Anda dipersilahkan berdiri ya.

Wish you were there.

Cheers!

Triana Mustika Rukmi

Galeri Nasional Indonesia Di Masa Pandemi Covid-19

Suatu hari tiba-tiba rasanya pengen banget liat lukisan jadi lah kan cari tau di Jakarta ada di mana sih? Akhirnya ketemu soal Galeri Nasional Indonesia di Jakarta. Googling soal galeri ini dan cari tau soal protokol selama masa pandemi.

Daftar Secara Online sebelum berkunjung

Sebelum pergi ke sana harus daftar dulu ya via website ini registrasi pengunjung Galnas. Jangan tanya kenapa websitenya kok alamatnya beda dengan website utama, ku pun kurang mengerti. Nanti di website bisa pilih waktu kunjungan hari dan jam. Perlu jadi catatan bahwa maksimal dalam setiap slot waktu kunjungan ( 1 jam kunjungan ) hanya boleh ada 20 orang. Setelah registrasi nanti akan dapat konfirmasi via email dan ini nanti ditunjukkan saat di lokasi. Sebenernya bisa juga sih registrasi di lokasi dengan catatan masih ada slot tersedia ya. lebih baik daftar sebelum datang sih jadi nanti tinggal masuk. Sssstt… untuk masuk ke pameran permanen ini tidak dipungut biaya.

Tiba di Lokasi Galeri Nasional

Waktu sampai di Galeri Nasional nanti bisa langsung dari gerbang masuk lurus terus lokasinya agak di dalam di sebelah kiri untuk pameran permanen. Waktu itu sedang tidak ada pameran khusus jadi tujuan utama memang hanya pameran permanen.

Di pintu masuk nanti perlu menunjukkan bukti registrasi. Ada QR code yang dikirimkan nanti ini akan discan. Protokol kesehatan tetap berlaku ya di sini jadi nanti ada pengecekan suhu dan kalau semua aman baru boleh masuk dan ada tempelan stiker galeri nasional yang perlu dikenakan ( yang mana sampai keluar dan pergi ke tempat lain pun ku lupa copot -_- ). Selama berada di lokasi harus selalu mengenakan masker dan jaga jarak . Anyway, Here we come!

Koleksi Permanen Galeri Nasional

Dari Pintu masuk nanti akan diarahkan naik tangga. Setelah itu akan ada dua area pameran. Pertama-tama aku ke sebelah kiri dulu untuk koleksi seniman Indonesia. Waktu masuk, wah… hawa galeri yang dirindukaaannn…. level bahagia naik tajam dan pencahayaannya rasanya cantik banget sih. ( sambil mikir dalam hati ya iyalah ya ini galeri nasional. )

Jadi untuk koleksi pertama, nanti akan ada beberapa ruangan dibagi berdasarkan periode dari paling lama sampai paling modern. Di bagian pertama ini ruangan yang lumayan jadi gongnya sih. Karya yang menarik perhatian sangat itu terkait dengan kisah penangkapan Pangeran Diponegoro. Waktu ke sana diinfo ini yang ada di buku sejarah waktu jaman masih sekolah dan saya nggak inget sama sekali. LOL. Jadi ada dua lukisan di mana lukisan pertama adalah kejadian yang digambarkan oleh pelukis luar dan lukisan kedua yang digambarkan oleh pelukis Indonesia. Terdapat perbedaan nuansa di antara kedua lukisan di mana yang satu seperti menggambarkan kekalahan sedangkan satunya lagi adalah semangat yang masih berkobar. Rasanya menarik ya untuk melihat satu kejadian yang sama bisa sangat berbeda dari sudut pandang yang berbeda. Tapi di luar makna intrinsiknya ada juga perbedaan dari cara melukis yang cukup kentara bisa dilihat di gambar di bawah ini.

Dari Ruangan ini kalau disusuri lagi ada banyak karya lain juga tidak hanya lukisan meskipun karya yang paling mendominasi adalah lukisan. Ada beberapa instalasi seni lain seperti patung, audio, ataupun yang bergerak. Beberapa karya kadang terasa tidak biasa. Untuk setiap ruangan yang dimasuki nanti jalannya berputar ya jadi waktu keluar pun akan keluar melalui alur pintu masuk.

Setelah selesai dengan area pertama bisa menuju ke area pameran kedua. Di bagian ini ada karya dari seniman luar negeri. Saat memasuki bagian kedua ini ada rasa yang berbeda, mungkin sama dengan cerita tentang penangkapan Pangeran Diponegoro, seni tergantung orang dan mungkin juga dipengaruhi dengan lokasi sepertinya.. jadi ada perasaan yang berbeda dari segi pilihan warna dan yang lainnya.

Di Area kedua ini masih didominasi oleh lukisan namun tetap ada bentuk instalasi seni lainnya. Ada beberapa lukisan yang makin membuat ingin jalan – jalan secepatnya ke luar dari Indonesia karena ada beberapa lukisan pemandangan yang memang tidak ada di sini apalagi kalau terkait dengan musim dingin dengan salju yang tidak ada di Indonesia. segera ya semoga pandemi cepat berakhir.

Sayangnya karena waktu berkunjung yang terbatas dengan batas maksimal kunjungan adalah 55 menit, saya jadi cukup kilat menyesaikan area kedua ini karena kita akan diminta meninggalkan area pameran supaya dapat memberikan alokasi waktu yang cukup untuk persiapan menerima pengunjung di slot waktu selanjutnya. Setelah keluar dari ruangan pameran, kita masih bisa menikmati area Galeri Nasional. Tempat ini memiliki beberapa gedung tua yang bisa jadi salah satu ajang ganti suasana juga kalau biasanya tinggal di rumah atau di gedung modern. Di beberapa dinding akan ada gambar juga misalnya seperti gambar berikut.

Untuk yang kadang merasa kurang paham tentang seni, saya pun sama kok. Tidak semua karya rasanya bisa klik ataupun ada karya yang terkadang kok saya nggak ngerti ya ini maksudnya apa tapi semua itu tidak mengurangi keinginan ataupun perasaan khusus saat melihat karya seninya.

Dari kunjungan yang cukup padat dan singkat ini cukup lumayan bisa mengobati rasa rindu pengen liat lukisan atau pergi ke galeri sampai nanti bisa liat lagi lukisan di galeri negara lain.

Wish you were here and get lost in the artsy environment. 🙂

Cheers!

Triana Mustika Rukmi

Krakatau Hiking

“sebuah bangsa tidak akan kehilangan sosok pemimpin selama pemudanya sering bertualang di hutan,gunung, dan lautan.” 
― Henry Dunant

Inspired by the quotes above that i first listened to when i joined Indonesian Redcross, i decided to join a trip to Hike Krakatau in 2015 with these peeps! It was an open trip in which i could’t remember anymore where do i had the info from nor do i the complete pics. *sad* speaking of my clumsiness which crashed down the storage.. So here are some of the stories that i dig in from this lil’ brain of mine.

Open trip usually has couple of meeting points, before the port then we could go to the port using bus or you could always meet at the port itself. If you go from Jakarta, we should go to Merak Port. That was my first time i went there. Finally feeling the hustle at the port and experiencing a Ferry boat. oh my it took a long time to load all stuffs to the Ferry. bring somethings to pass time. Once it’s finished. Off we go to Bakauheni port. Fret not, the journey continues to a dock to reach the Sebesi island where our accomodation was located.

About Sebesi Island, guys… Signal + electricity was scarce back then. Hope it’s better this time so essentially you have the off time where you could linger and feel the sea breeze with its calming sound. Good detachment from the city hustle and bustle though i don’t know if i could stay for long. LOL.. sorry i am an internet addict. Anyway, i’ve survived.

Getting into the trip itself, i had several opportunities to snorkle though it wasn’t that great. The current was a bit too rough for me and i think i had a bit of sea sick.. But how could you not love the sea? as for the hikes.. well, it’s pretty mild for a beginner, go there with your own pace and you will be alright. If we could made it, you do too! I enjoyed the ride and hope you too..

wish you were there with us! Cheers! 😉

Bandung and the Hike!

Bandung. i love this city to the bone and i miss this city so much at this very moment. Well, for you who has never been there, Bandung is the capital city of West Java Region in Indonesia. It sits at mountain area so skip it if you are wishing to see beach. However, visit it if you want to see mountain, crater, hill, a bit of chilling weather.. it’s getting hotter over the years.

This time, i would like to share my visit Couple of years ago. Why 2016 feel so far away? i spent some days there with my bestie Nabila As’ad. She had this idea to go to Tahura ( Taman Hutan Raya ) so there we went! I wasn’t ready for a Hike. LOL. i didn’t even have sport shoes with me. I wore my flip flop while wishing she wouldn’t given up on me along the way.

I had to admit that the nature was sooo nice.  the weather was cool and the air was fresh. They have already made a pathway so the hike was quite manageable. It’s not only forest and rough path. There are some spots for you to enjoy the moment and to lose yourself in the amazement of your surroundings. You could choose different path which will lead you to several places far away..but don’t forget to try getting into the cave. It will send a bit of shiver on your shoulder. We call it as Japanese – cave one of the historical place during Japan’s ruling in Indonesia.

Afterwards, you could go deeper into the forest or just like us. stop there and enjoy the local delicacies! who can resist the food after an exercise? We need some boost to go down anyway.

Wish you were there and enjoying the scenery with us! Cheers! 😉

IMG-20161212-WA0030IMG20161211072851IMG20161211080524